Sabtu, 30 Juni 2012

Wisata Kunang Kunang!

Coba ingat-ingat lagi, deh, kapan, ya,
terakhir kali kamu melihat kunang-
kunang? Sepertinya di kota-kota besar
sudah jarang muncul bahkan bisa
dibilang langka.

Seandainya, kamu rindu sama
kunang-kunang, kamu bisa mampir,
ke Biak Numfor, Papua. Di sana akan
ada Pekan Wisata Munara Wampasi
yang berlangsung 3-5 Juli 2012.
Kamu bisa melihat aneka atraksi seni
dan budaya serta wisata bahari. Nah,
di malam hari, kamu bisa menyambut
kedatangan kunang-kunang
berterbangan. Wow, seru!
“Kunang-kunang di Biak besar-besar,
cahayanya lebih bersinar. Kunang-
kunang tersebar di seluruh Pulau Biak.
Karena katanya kunang-kunang
sukanya di tempat yang udaranya
bersih,” kata Kepala Dinas Pariwisata
Biak Numfor, Pak Andries Kafiar di
Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin
(25/6/2012)

Menurut Pak Andries, jumlah populasi
kunang-kunang di Biak lebih banyak
dibanding daerah lainnya. Kunang-
kunang, lanjutnya, muncul di antara
jam 18.00 sampai 21.00.
Wah, kalau ingin melihat benar-benar
aksi kunang-kunang, jangan sampai
terlewatkan. Catat baik-baik, yah, jam
keluar si kunang-kunang!

Jumat, 29 Juni 2012

Gurano Bintang, Raksasa Teluk Cendrawasih

Raksasa apa, sih, yang hidup di
Teluk Cendrawasih, Papua?! Oho, itu
ternyata hiu paus atau Rhincodon
typus . Ya, hiu paus memang
raksasa. Hiu paus, kan, ikan terbesar
di dunia. Panjang tubuhnya sekitar
12 meter. Beratnya bisa mencapai 21
ton!

Salah satu habitat hiu paus di
Indonesia adalah di Taman Nasional
Teluk Cendrawasih (TNTC). TNTC
adalah taman laut nasional laut
terbesar di Indonesia. Letaknya di
antara Kabupaten Teluk Wondama,
Provinsi Papua Barat dan Kabupaten
Nabire, Provinsi Papua.
Berdasarkan catatan TNTC tahun
2011, ada sekitar 40 ekor hiu paus
yang hidup di TNTC. Hiu paus di
TNTC punya sebutan unik. Bagi
masyarakat Papua Barat, hiu paus
disebut gurano bintang. Kalau bagi
masyarakat Nabire, Papua, hiu paus
disebut hiniota nibre.

Hiu paus di TNTC memiliki keunikan
dibandingkan hiu paus di tempat-
tempat lain. Pertama, hiu paus di
TNTC selalu ada sepanjang tahun.
Kedua, hiu paus biasanya hidup
menyendiri, tetapi di TNTC, hiu
pausnya sering ditemukan
berkelompok. Ketiga, hiu paus pada
umumnya suka makan plankton.
Namun, di TNTC, hiu pausnya suka
makan ikan puri atau teri!

Ya, hiu paus di TNTC suka makan
teri dari nelayan. Ikan-ikan itu
muncul ke permukaan dan
mendatangi bagan-bagan ikan, lalu
menanti para nelayan memberi teri.
Waaa… Para nelayan di TNTC serasa
punya peliharaan hiu paus!

Meski tubuhnya raksasa, hiu paus
jinak. Ia bersahabat dengan para
nelayan dan penyelam. Saat didekati
penyelam, hiu paus akan berenang
bersama dengan santai.
Siapa sangka, raksasa jinak ini
dulunya tidak disukai masyarakat
Papua. Puluhan tahun lalu,
masyarakat Papua menganggap hiu
paus membawa sial. Untunglah,
anggapan itu kini telah berubah.